Varian Baru Covid-19 Omnicron Telah Tersebar di Puluhan Negara, Termasuk Indonesia

Kabar terkini- Varian Covid-19 Omnikron berasal dari negara Nigeria yang telah diduga menyebar keberbagi negara. Varian Omicron telah ditemukan di 89 negara dan memicu lonjakan kasus Covid-19 hingga dua kali lipat setiap 1,5 hingga 3 hari sekali di tempat yang telah mengalami transmisi komunitas.

Di Indonesia, varian ini diduga telah masuk sejak akhir November 2021 dan saat ini telah dikonfirmasi tiga kasus serta 14 terduga. Laporan tertulis Kementerian Kesehatan pada Minggu (19/12/2021) menunjukkan, tiga kasus Covid-19 yang positif Omicron telah ditemukan di Indonesia.

Selain itu, 14 orang terduga Omicron berdasarkan hasil pemeriksaan SGTF (’S gene target failure). Pemeriksaan SGTF, disebut juga drop out gen S, adalah ketika gen S tidak terdeteksi dengan polimerase rantai ganda (PCR) yang menjadi penanda infeksi Omicron.

Omnikron Ditemukan di Indonesia

Kasus pertama terkonfirmasi pada 15 Desember dari sampel pekerja Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet berinisial ”N” yang sampelnya diambil sejak 8 Desember dan dianalisis dengan whole genome sequencing (WGS) pada 12 Desember 2021. Sampai sekarang belum diketahui siapa penular Omicron ke pekerja di RSDC Wisma Atlet ini.

Pelacakan terhadap riwayat kontak N telah diperiksa 169 sampel, 83 di antaranya dipastikan non-Omicron dan 5 negatif. Sedangkan 76 lainnya masih dicari spesimennya untuk uji SGTF.Pelacakan yang dilakukan juga menemukan kasus terduga Omicron sekitar dua minggu lebih awal sebelum ditemukannya kasus N.

Pasien terduga Omicron ini merupakan pelaku perjalanan dari Nigeria dan telah dirawat di RSDC Wisma Atlet pada 27 November hingga 8 Desember 2021. Sebelumnya, pasien berinisial T yang berasal dari Kalimantan Tengah ini dikarantina di Wisma Pademangan.

Oleh karena itu, saat ini juga tengah dilakukan pelacakan terhadap tenaga kesehatan yang bertugas di  Wisma Pademangan pada 24 November-8 Desember 2021. Pada 28 November, spesimen pasien T sudah dianalisis dengan WGS, tetapi gagal karena nilai CT 38 atau terlalu tinggi. Pemeriksaan ulang oleh Litbang Kemenkes pada 18 Desember dengan SGTF menunjukkan pasien terduga Omicron.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi, yang dikonfirmasi, mengatakan masih mengecek perkembangan terbaru. Safarina G Malik, peneliti senior di Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman-BRIN mengatakan, WGS tidak bisa dilakukan jika CT di atas 30.

Menurut Safarina, belum semua laboratorium bisa melakukan analisis SGTF. ”SGTF ini pendekatan khusus, bukan PCR biasa. Sampai sekarang belum banyak kit PCR yang menargetkan gen S karena sering mutasi. Sementara itu, dua kasus Omicron terkonfirmasi pada 17 Desember, berasal dari warga negara Indonesia yang baru pulang dari luar negeri dan dikarantina di RSDC Wisma Atlet.

Satu orang pulang dari Belanda transit Singapura dan tiba di Jakarta pada 10 Desember. Sedangkan lainnya dari London via Doha dan tiba di Jakarta pada 14 Desember.Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Ari Fahrial Syam mengatakan, risiko masuknya Omicron sangat tinggi jika hanya mengandalkan pemeriksaan PCR.

Data Kemenkes menunjukkan, dari 14 kasus terduga Omicron, tiga di antaranya merupakan warga negara China yang dikarantina di Manado. Saat ini sampel dari ketiganya masih dianalisis dengan WGS. Dua kasus terduga lainnya merupakan pelaku perjalanan dari Malaysia dan dikarantina di Aruk, Kalimantan Barat, dan dua orang dari London yang dikarantina di Jakarta.

Tujuh kasus terduga Omicron lainnya merupakan pelaku perjalanan dari Malaysia yang diambil sampelnya pada 18 Desember. Mereka dikarantina di Entikong, Kalimantan Barat. Kementerian Kesehatan juga tengah melacak 169 pasien di RSDC Wisma Atlet, semuanya warga negara Indonesia. Sebanyak 40 orang masih dirawat dan 129 sudah pulang.