Taiwan Terpaksa Menerapkan Lockdown Demi Lawan Virus Corona

Kabar terkini- Sejak awal virus corona menyebar dari Wuhan, Cina ke berbagai negara, Taiwan merupakan salah satu dari sedikit negara yang mampu menahan penyebaran covid-19 sehingga hampir tidak memiliki kasus.

Padahal jika dilihat dari segi geografisnya, Taiwan bertetangga dengan Cina. Namun, karena pemerintah nya mengambil kebijakan yang Pre-emptive, sehingga menjadikannya negara tersukses mengatasi virus Corona.

Predikat tersukses tersebut akhirnya hanya bertahan satu tahun saja, karena pada bulan Mei 2021  Pemerintah Taiwan resmi mengumumkan adanya lockdown guna merespon lonjakan kasus COVID-19.

Taiwan Lockdown? 

Dengan adanya kasus baru yang berjumlah 207 kasus, pemerintah langsung mengambil kebijakan untuk menutup Taiwan hingga bulan Juni. Angka tersebut merupakan angka kasus terbesar sejak penyebaran virus corona.

Meskipun orang tanpa pemegang ARC atau izin tempat tinggal di Taiwan untuk sementara tidak diizinkan, namun pertemuan di dalam ruangan masih diperbolehkan dengan batasan hampir setengah dari jumlah kehadiran.

Presiden Tsai Ing-wen juga mengimbau agar warganya tak panic buying saat mendengar kebijakan lockdown, karena tentunya tempat-tempat yang menyediakan kebutuhan pokok bakal tetap dibuka dengan protokol kesehatan.

Kebijakan menutup perbatasan Taiwan memang sangat sukses dan menjadi kunci keberhasilannya negeri Formosa tersebut dalam memerangi virus corona. Saat ini Taiwan hanya memiliki 12 kasus kematian karena terpapar COVID-19.

 

Setelah sempat tak mewajibkan penggunaan masker, kini barang tersebut kembali menjadi keharusan dari pemerintah saat Taiwan lockdown. Khususnya, berlaku di kota Taipei dengan wilayah penyumbang kasus Corona terbanyak.

Status siaga Corona di Taiwan pun naik menjadi Level 3. Yang mana Taiwan memiliki empat tingkat respons COVID-19, dan peringatan Level 3 adalah peringatan sebelum Taiwan lockdown nasional.

Meskipun hal ini belum pernah terjadi sebelumnya, namun Taiwan harus berani mengambil tindakan pencegahan agar tidak mengalami dampak buruk corona seperti negara lain.

Untuk menghindari tindakan panic buying akibat lockdown, Presiden Tsai pada hari Sabtu memperingatkan bahwa masyarakat dibatasi saat membeli kebutuhan sehari-hari yaitu hanya dua item maksimal per-hari.

Adapun kebijakan yang ketat tersebut lantaran, panic buying bisa menjadi cluster baru penyebaran virus corona. Selain itu, panic buying juga menyebabkan ketidakstabilan stok barang kebutuhan pokok untuk semua warga.

Posted by userlogin