Polisi Jemput Mantan Sekum FPI Dugaan Kasus Terorisme

Kabar terkini- Pada tanggal 30 Desember 2020, Kapolri  Tito Karnavian secara resmi melarang izin berdirinya organisasi Front Pembela Islam (FPI) karena dianggap meresahkan masyarakat dan tidak sejalan dengan dasar negara yakni pancasila.

Pencabutan izin organisasi FPI tersebut berjalan bersamaan dengan penangkapan Habib Rizieq Shihab yang dibeli berbagai tuduhan kasus seperti penistaan pancasila dan keluarga Bung Karno, serta tindakannya yang menimbulkan kerumunan massal pasca kedatangannya dari Arab Saudi.

Pasalnya mantan ketua FPI yang sempat ‘melarikan diri’ dari berbagai tuduhan tersebut disambut oleh ribuan pendukungnya tanpa menerapkan protokol kesehatan, yang mana pada saat itu angka kasus Covid-19 bertambah drastis.

Mantan Sekum FPI Diduga Pendukung Teroris

Isu teroris memang sangat melekat dengan Indonesia, pasalnya beberapa tahun terakhir oknum-oknum teroris berhasil melancarkan beberapa aksinya yakni bom bunuh diri khususnya di tempat-tempat ibadah. Yang paling terbaru adalah kasus bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar pada saat bulan paskah tahun ini.

Untuk alasan tersebutlah, Pihak kepolisian lewat Densus 88 bergegas untuk menumpas oknum dibalik kejadian teror tersebut. Tak butuh waktu lama Densus 88 berhasil menangkap puluhan oknum yang diduga bergabung dengan kelompok terorisme tersebut.

Setelah identifikasi selesai, pihak Kepolisian memastikan bahwa dalang dibalik pengeboman gereja Katedral di Makassar adalah kelompok Jamaah Islamiah (JI). Hal ini pun dibuktikan dengan keberhsilan dari tim anti teror tersebut menangkap 22 anggota JI bersama barang bukti yang diduga sebagai bahan untuk merakit alat peledak.

Publik semakin diheohkan lagi, pasalnya kebanyakan dari anggota teroris yang ditangkap tersebut merupakan simpatisan FPI yang telah dibubarkan. Namun yang menjadi sorotan publik adalah penangkapan Mantan sekum FPI, Munarman pada Rabu, 28 April 2021 lalu dugaan kegiaan aksi terorisme di Makassar.

Munarman pun langsung dijemput paksa oleh tim Densus 88 di rumahnya dengan posisi tangan diborgol dan mata ditutup dengan kain hitam sama seperti oknum-oknum tersangka teroris yang telah diamankan sebelumnya. Banyak orang bertanya-tanya apakah tindakan dari kepolisian tersebut melanggar HAM atau tidak, lantasan belum ada bukti kalau dirinya terlibat dalam aksi teror tersebut.

Meskipun demikian, pihak kepolisian telah memastikan bahwa tindakan mereka adalah sesuai dengan SOP yang berlaku dan merupakan tugas mereka untuk melakukan penangkapan Munarman. Menanggapi perlakuan polisi terhadap Munarman ini, Komnas HAM menyebut tindakan polisi berlebihan.

Posted by userlogin