Kabut Asap Karhutla Picu Lonjakan Gangguan Pernapasan di Malaysia dan Brunei

Kabar Terkini- Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kalimantan kembali menimbulkan dampak serius bagi masyarakat di sejumlah kawasan Borneo Malaysia hingga Brunei. Buruknya kualitas udara membuat warga mengalami berbagai gangguan kesehatan, terutama penyakit yang berkaitan dengan sistem pernapasan dan iritasi mata.

Di Kuching, Sarawak, dampak kabut asap dirasakan langsung oleh Mia Emylia Hassan, 33 tahun. Ia harus berulang kali membawa bayinya yang baru berusia 10 bulan ke rumah sakit setelah mengalami masalah pada saluran pernapasan. Sang bayi sebelumnya sempat menjalani perawatan karena infeksi paru-paru dan belum sepenuhnya pulih.

Kondisi tersebut semakin memburuk ketika kualitas udara di wilayah tempat tinggal mereka menurun. Bayi Mia terus mengalami batuk dan muntah serta harus mengonsumsi obat selama beberapa pekan. Dalam kondisi tertentu, gangguan pernapasan yang dialaminya menjadi sangat parah sehingga keluarga harus membawanya ke unit gawat darurat hingga dua kali.

Kabut Asap Karhutla

Adapun dampak kesehatan akibat polusi udara juga tercermin dalam data kesehatan Malaysia. Selama periode 23 hingga 29 Agustus, jumlah kasus asma meningkat tajam menjadi 1.811 kasus dalam satu pekan. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan 219 kasus yang tercatat pada pekan sebelumnya.

Peningkatan juga terjadi pada kasus konjungtivitis atau peradangan yang menyebabkan mata merah dan iritasi. Jumlah kasusnya mencapai 720 dalam periode yang sama, meningkat signifikan dari 146 kasus pada minggu sebelumnya.

Bukan hanya masyarakat di wilayah Borneo yang terdampak. Di kawasan Kuala Lumpur dan sekitarnya, Karen-Michaela Tan, 52 tahun, merasakan memburuknya kondisi pernapasan ketika kualitas udara menurun. Ia mengalami sesak napas, wheezing, serta mudah kehabisan napas ketika melakukan aktivitas sederhana seperti menaiki tangga.

Untuk meredakan gangguan tersebut, Karen bahkan membutuhkan terapi nebulizer sebanyak dua kali berturut-turut dan harus mengonsumsi steroid dengan dosis tinggi. Ia juga memilih lebih banyak berada di dalam rumah dan menggunakan dua alat pemurni udara secara terus-menerus.

Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak berhenti di wilayah sumber kebakaran. Asap yang terbawa angin dapat menyebar lintas wilayah dan negara, meningkatkan paparan polusi serta memperbesar risiko gangguan kesehatan, terutama bagi bayi, anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan.

Lonjakan kasus tersebut sekaligus menjadi peringatan bahwa kualitas udara buruk akibat kabut asap dapat memberikan tekanan besar terhadap kesehatan masyarakat apabila berlangsung dalam waktu lama.