Kabar Terkini – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyebutkan pemerintahannya sudah dalam kendali setelah ada usaha kudeta militer pada Sabtu (16/7). Walau demikian, dia menuntut Amerika Serikat (AS) untuk segera menangkap atau memulangkan Fethullah Gulen ke Turki.
Fethullah Gulen merupakan seorang ulama asal Turki yang saat ini mengasingkan diri di Pennsylvania, AS. Dia dituding sebagai otak kudeta militer di Turki yang menewaskan sekitaran 200 orang, tetapi tidak berhasil.
“Saya menyerukan kepada Amerika Serikat serta Presiden Barack Obama untuk sebaiknya menangkap Fethullah Gulen atau mengembalikannya ke Turki. Bila kita adalah mitra strategis atau mitra model, jadi lakukan apa yang dibutuhkan,” kata Erdogan di dekat rumahnya seperti ditulis CNN.
Terlebih dulu, Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu menyampaikan, pada Sabtu (16/7) dia sudah berkomunikasi dengan Menlu AS John Kerry. Dalam kesempatan itu dia mengemukakan tokoh ulama Turki yang saat ini mengasingkan diri di AS, Fethullah Gulen ada dibalik usaha kudeta itu.
“Topik ekstradisi tak datang langsung dalam pembicaraan kita kemarin. Tetapi, saya menyampaikan sekali lagi kalau ini adalah usaha Gulen, yang ada di negara mereka, serta strukturnya dalam militer,” kata Mevlut Cavusoglu di sebuah wawancara di Ankara, yang ditulis oleh Reuters, Minggu (17/7/2016).
Fethullah Gulen terlebih dulu telah menyanggah mendalangi percobaan kudeta militer itu.
“Sebagai orang yang menanggung derita dibawah sejumlah kudeta militer sepanjang lima dekade terakhir, ini adalah penghinaan lantaran dituduh ikut serta usaha itu. Saya dengan tegas menyanggah tuduhan seperti itu,” tegas Gulen.
“Saya mengutuk, dengan sekeras-kerasnya, percobaan kudeta militer di Turki,” tambah Gulen dalam pernyataan singkat itu.
“Pemerintah mesti menang melalui proses penentuan yang adil serta bebas, bukanlah dengan kekerasan,” papar ulama Turki yang bermukim di Amerika Serikat itu.
Ulama berusia 75 tahun itu, dulunya adalah sekutu erat Erdogan. Tetapi keduanya bersitegang dalam beberapa tahun terakhir bersamaan Erdogan mencurigai gerakan Hizmet yang di pimpin Gulen. Kehadiran gerakan itu akhir-akhir ini menonjol di masyarakat Turki, termasuk juga media, kepolisian serta pengadilan.
Gulen pindah ke AS pada tahun 1999, sebelumnya dia dikenai dakwaan pengkhianatan di Turki.
