Publik Dianggap Tak Cepat Lupa Dengan Kembalinya Novanto Menjadi Ketua DPR

Publik Dianggap Tak Cepat Lupa Dengan Kembalinya Novanto Menjadi Ketua DPR

Kabar Terkini – DPR RI hari ini jam 15.00 WIB bakal mengadakan rapat paripurna. Satu diantara sebagai bahasan dalam rapat itu merupakan pergantian Ketua DPR RI dari Ade Komarudin (Akom) kembali pada Setya Novanto.

Menurut pengamat politik dari LIPI, Siti Zuhro, Partai Golkar bakal menanggung konsekuensi pergantian itu pada Pemilu 2019 yang akan datang. Siti menyampaikan kalau publik tidak akan lupa dengan masalah ‘papa minta saham’ yang pernah menjerat Novanto. Terlebih saat masalah itu mencuat publik yang meminta Novanto turun dari posisi Ketua DPR RI.

“Publik tak mempunyai kemewahan dan kekuasaan, selain dalam memilih saat Pemilu serta Pilkada. Masyarakat, selemah-lemahnya iman seolah-olah diam saat ini, namun nanti mereka bakal berikan penalti itu,” kata Siti waktu didapati di Kantor KemenpanRB, Jalan Sudirman, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (30/11/2016).

Dirinya juga berikan contoh bagaimana keyakinan publik bisa memengaruhi sebuah parpol dalam Pemilu. Golkar, lanjut Siti, sebagai partai yang identik dengan Orde Baru dapat menang di Pemilu tahun 2004 mengalahkan PDIP.

“Ini yang terjadi pada PDIP saat menang di tahun 1999 namun 2004 kalah. Demikian halnya yang tidak mendukung Golkar mulai sejak 1999 namun 2004 menang lantaran ada di luar pemerintah. 2014 PDIP menang lagi lantaran ada diluar pemerintah. Biasanya sorotan pada partai yang berkoalisi dengan penguasa itu kencang sekali,” katanya.

“Di 2019, dari ilustrasi tadi, publik tidak diam. Publik mencatat partai mana yang dapat diakui dalam 5 tahun. Jangan dianggap masyarakat lupa,” lanjutnya.

Siti tak luput mengkritik etika politik Novanto yang kembali diserahkan jadi Ketua DPR setelah sebelumnya mengundurkan diri lantaran masalah ‘papa minta saham’. Menurut Siti, masih ada ego dari Novanto yang ingin jadi Ketua DPR setelah kasusnya dianggap usai oleh MKD serta dikuatkan oleh MK.

“Apa yang terjadi bukanlah tiba-tiba. Perjuangan dalam konteks ini, Golkar dan Novanto, telah berusaha sedemikian rupa hingga MK berikan rehabilitasi. Saat itu diberikan, tak ada kesalahan di Novanto berarti final kan, usai,” tutur wanita berkerudung itu.

“Nah masalah kembali pada Novanto. Dia tidak enak dalam kehidupannya kok dia menanggung beban moral politik yang berat. Akhirnya sudah selesai semuanya, kan di MK sudah clear. Setelah clear dia berusaha untuk itu (jadi Ketua DPR lagi) dan di dukung oleh Presiden Jokowi,” tutupnya.