Presiden Prancis Tentang Karikatur Nabi Muhammad

Berita terkini- Media tanah air hari ini sedang diramaikan dengan pemberitaan aksi demonstrasi oleh organisasi gabungan umat pembela Islam di depan gedung Kedutaan Besar Prancis untuk Indonesia.

Para demonstran yang terdiri dari Front Pembela Islam(FPI), Persatuan Alumni 212 bersama dengan massa yang tergerak untuk membela agamanya, berbondong-bondong meramaikan seruan kecaman terhadap pernyataan Presiden Macron tentang karikatur Nabi Muhammad.

Apa Yang Terjadi Di Prancis?

Yang sebenarnya terjadi di Prancis adalah kemarahan para oknum penganut Islam tertentu yang melakukan aksi kriminal sadis dan penyerangan terhadap kantor majalah Charlie Hebdo.

Dalam satu bulan terakhir ini, telah terjadi insiden serangan yang mengakibatkan dua orang luka luka dan empat orang meninggal dunia.

Adapun dua orang yang selamat dari serangan tersebut adalah staf perusahaan rumah produksi yang mengalami luka akibat serangan pisau pada akhir September lalu.

Selain itu yang lebih mengerikan lagi yaitu kematian seorang guru sejarah, Samuel Paty yang dipenggal kepalanya setelah memperlihatkan gambar karikatur Nabi Muhammad SAW kepada murid-murid kelasnya.

Samuel Paty yang mengajar di salah satu sekolah menengah di pinggiran Paris tersebut memperlihatkan karikatur Nabi untuk tujuan pembahasan yang bertema kebebasan berpendapat.

Namun, tampaknya tindakan ilustrasi tersebut tidak ditanggap sedemikian rupa dengan para oknum yang melakukan pembunuhan, alih-alih memahaminya sebagai penghinaan atas sang Nabi.

Pernyataan Presiden Macron

Sebagai presiden negara Prancis Emmanuel Macron memiliki tanggungjawab untuk merilis pernyataan tentang apa yang terjadi dan tindakan apa yang akan diambil oleh pemerintah kepada rakyatnya.

Sehingga pada tanggal 2 Oktober 2020 kemarin Presiden Macron berpidato kepada rakyat Prancis dan dunia di kota Les Mureaux.

Pada kesempatan tersebutlah Presiden Macron menegaskan bahwa hukum di negara Prancis adalah hukum republik dan negara tersebut menganut sistem sekularisme (Bukan negara agama).

Macron juga mendukung adanya kebebasan berpendapat warganya termasuk rencana penerbitan ulang karikatur Nabi Muhammad SAW. Dalam pernyataannya tersebut Macron juga tidak akan mengkritik tindakan Samuel Paty, bahkan menjadikannya sebagai wajah republik.

Presiden yang sekarang jadi bahan pembicaraan umat muslim sedunia tersebut juga menegaskan bahwa kebebasan berpendapat akan dilindungi oleh undang-undang republik.

Sementara tindakan separatisme akan diganjar hukuman sesuai dengan hukum yang berlaku di negara Prancis.

Respon Negara Lain

Setelah pidato tersebut viral di sosial tidak sedikit petinggi negara mayoritas muslim yang angkat bicara. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyebut Presiden Macron perlu “perawatan mental”.

Pemimpin Turki ini mengatakan “tak ada kata-kata lain yang bisa dikemukakan untuk menggambarkan kepala negara yang tidak memahami kebebasan menjalankan keyakinan agama.P

Sebagai respon, Prancis menyebut pernyataan Erdogan “kasar dan tak pantas”. Perancis juga menarik duta besar mereka di Ankara. Turki kemudian menyerukan boikot atas produk-produk Perancis, seruan yang juga muncul di sejumlah negara di Timur Tengah.

Sementara di Indonesia, Presiden Jokowi juga angkat bicara untuk mengecam pernyataan Presiden Prancis tersebut yang telah menyakiti hati muslim sedunia.

 

Posted by userlogin