Kabar Terkini- Komnas HAM menyimpulkan bahwa insiden penyiraman air keras terhadap aktivis Andrie Yunus tidak terjadi secara spontan, melainkan telah dipersiapkan dengan matang dan melibatkan koordinasi sejumlah pihak. Temuan ini diperoleh setelah serangkaian penyelidikan mendalam yang dilakukan dalam beberapa pekan terakhir.
Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan tersebut menjadi korban dalam peristiwa yang kini mendapat perhatian luas publik. Dalam proses penyelidikan, Komnas HAM melakukan pemeriksaan terhadap berbagai sumber, mulai dari keterangan saksi hingga bukti teknis seperti rekaman kamera pengawas dan analisis data komunikasi.
Ketua Komnas HAM, Anies Hidayah, menjelaskan bahwa pola serangan menunjukkan adanya perencanaan yang rapi dan pelaksanaan yang melibatkan lebih dari satu pelaku. Menurutnya, rangkaian tindakan yang teridentifikasi tidak mengarah pada aksi individu, melainkan operasi yang tersusun secara sistematis.
Serangan Air Keras terhadap Aktivis
Sejak 19 Maret hingga awal April 2026, Komnas HAM telah meminta keterangan dari sedikitnya delapan pihak yang berkaitan dengan kasus ini. Pihak-pihak tersebut mencakup saksi dari KontraS, tenaga medis di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, hingga aparat dari Polda Metro Jaya. Selain itu, koordinasi juga dilakukan bersama Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban, Tim Advokasi untuk Demokrasi, serta KontraS sendiri.
Selain itu, Komnas HAM turut menggali informasi dari unsur militer, termasuk meminta keterangan kepada Tentara Nasional Indonesia dan para ahli di bidang intelijen militer, toksikologi forensik, serta psikologi forensik. Seluruh keterangan tersebut dihimpun untuk memperkuat analisis terhadap motif dan pola serangan.
Namun demikian, hingga saat ini pihak TNI belum memenuhi panggilan resmi Komnas HAM terkait permintaan informasi terhadap empat terduga pelaku yang disebut berasal dari Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI.
Sementara itu, Komisioner Komnas HAM, Saurlin Siagian, mengungkapkan bahwa berdasarkan analisis rekaman CCTV, terdapat setidaknya 14 individu yang terdeteksi saling berhubungan di sekitar kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia di kawasan Menteng sebelum kejadian berlangsung di Salemba.
Selain kelompok tersebut, ditemukan pula sekitar lima orang tak dikenal yang menunjukkan aktivitas mencurigakan di lokasi yang sama. Bahkan, Komnas HAM menduga adanya keterlibatan pihak lain yang tidak berada langsung di tempat kejadian, namun berperan dalam mendukung pelaksanaan serangan.
Adapun temuan ini semakin memperkuat indikasi bahwa kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus merupakan tindakan terorganisir yang membutuhkan pengusutan lebih lanjut secara transparan dan menyeluruh.
