Artikel terkini-Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim dan CEO Tesla Motors Elon Musk berdialog dengan 400 mahasiswa dari seluruh Indonesia dalam acara Intergenerational Dialogue Creating Our Future. Elon Musk hadir secara virtual.
Acara terselenggara atas kerjasama Future Knowledge Summit Tri Hita Karana (THK) dan Kementerian Pelayaran dan Investasi (Kemenkomarves) yang mengoordinasikan festival kampus mandiri Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Organisasi nirlaba Usaha Indonesia Damai atau United In Diversity (UID) terlibat dalam kerjasama tersebut.
Mentri pendidikan tersebut mengatakan, melalui program prioritas Kampus Merdeka Belajar Merdeka (MBKM), pihaknya memimpin transformasi perguruan tinggi dan mengoptimalkan kemampuan mahasiswa untuk menjawab tantangan perubahan. Menurutnya, kebijakan tersebut menyimpang dari prinsip kerja sama untuk menciptakan inovasi.
“Kebijakan kami menyimpang dari prinsip kerjasama yang inovatif. Khusus di tingkat universitas, kami berusaha mendobrak sekat antara universitas, industri dan masyarakat dengan Merdeka Belajar Kampus Merdeka,” jelas Nadiem.
Nadiem memoderasi dialog Elon Musk dengan mahasiswa di seluruh Indonesia. Saat itu, Nadiem bertanya kepada Elon apakah ada peristiwa dalam hidupnya saat masih muda yang menjadikannya seperti sekarang ini. Elon menjawab bahwa dia banyak membaca dan menonton fiksi ilmiah. “Jalan ini sangat mempengaruhi saya untuk mencari kebenaran dalam banyak hal. Sejak itu saya menemukan bahwa fisika sangat berguna untuk segala hal,” kata Elon.
Dalam sesi tersebut, Nadiem menjelaskan bahwa Indonesia kini sedang menutup kesenjangan antara universitas dan industri. Nadiem menanyakan pandangan Elon tentang masa depan pendidikan dan apa yang sebenarnya harus diajarkan kepada generasi muda. “Kita harus tahu apa yang penting. Jika kita ingin menyelesaikan suatu masalah, kita perlu mengetahui alat apa yang digunakan untuk menyelesaikan masalah dan memahami bagaimana mendefinisikan alat yang mendukung proses pemecahan masalah, masa depan harus demikian,” jawab Elon.
“Yang harus dipelajari adalah kemampuan berpikir kritis. Harus berani menolak konsep buruk,” lanjut Elon. Nadiem kemudian menjawab bahwa Kemendikbud mengganti ujian berbasis mata pelajaran atau Ujian Nasional (YK) dengan ujian kompetensi membaca, berhitung, karakter dan lingkungan sekolah dengan Penilaian Nasional (AN). “Ini salah satunya untuk membantu anak-anak kita berpikir kritis,” kata Nadiem.
