Artikel Terkini- Sri Mulyani Indrawati Menteri Keuangan mengungkapkan bahwa bahan bakar minyak (BBM) lebih banyak digunakan oleh golongan masyarakat yang mampu, baik untuk jenis Solar maupun Pertalite. Sehingga, perlu adanya suatu kebijakan untuk meluruskan hal terkait.
Pasalnya akibat subsidi yang salah sasaran ini kuota BBM Pertalite dan Solar diprediksi bakal habis pada Oktober 2022. Kata Sri Mulyani dalam keterangannya “Dari data yang ada, ternyata BBM bersubsidi lebih banyak dinikmati golongan masyarakat yang lebih mampu. Anggaran subsidi jadi salah sasaran dan tidak adil. Bukan mengurangi kemiskinan, tapi justru menciptakan kesenjangan,”
Penggunaan bahan bakar solar dan pertalite oleh pengguna mobil mahal
Hal mengenai penggunaan bahan bakar bersubsidi dinilai oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif, yang mengatakan bahwa saat ini masih banyak mobil mewah yang menggunakan BBM Pertalite. Sehingga, pihaknya bersama Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) akan membatasi pembelian Pertalite dan Solar untuk kendaraan pribadi agar penyaluran subsidi tepat sasaran.
“Seperti mobil mewah, itu kan orangnya mampu. Jadi tidak layak mendapatkan subsidi. Nanti jenisnya kita tentukan,” kata dia beberapa waktu lalu. Subsidi BBM ditambah untuk membantu masyarakat, tapi apakah sudah tepat sasaran?
dilansir dari laman instagram sri mulyani Mentri Keuangan dituliskan bahwa, Mencermati perkembangan terkini diperkirakan. harga minyak mentah masih terus naik akan mencapai US$105/barel pada akhir tahun, lebih tinggi dari asumsi makro pada Perpres 98/2022, yaitu US$100/barel. Nilai tukar US Dollar terhadap Rupiah juga berada di angka Rp14.700, lebih tinggi dari asumsi sebesar Rp14.450.
Sejalan aktivitas ekonomi yang makin pulih dan mobilitas yang meningkat, kuota volume BBM bersubsidi yang dianggarkan dalam APBN 2022 diperkirakan akan habis pada Oktober 2022. Apabila terus dibiarkan, anggaran subsidi dan kompensasi harus ditambah. Namun, masalahnya, siapa yang menikmati anggaran subsidi ini?
Dari data yang ada, ternyata, BBM bersubsidi lebih banyak dinikmati oleh golongan masyarakat yang lebih mampu. Anggaran subsidi jadi salah sasaran dan tidak adil. Bukan mengurangi kemiskinan, tapi justru menciptakan kesenjangan.
