Kabar Terkini- Sumatera sedang berduka dengan bencana alam banjir dan longsor yang menimbulkan ratusan korban dan ribuan pengungsi. Adapun fenomena cuaca ekstrem kembali melanda wilayah Sumatera pada akhir November 2025.
Sementara hujan sangat deras yang terjadi selama tiga hari berturut—25 hingga 27 November—menyebabkan banjir bandang dan longsor masif di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Kondisi ini dipicu oleh kemunculan siklon tropis di sekitar perairan barat Sumatera, yang memperkuat pembentukan awan hujan dan meningkatkan intensitas curah hujan di tiga provinsi tersebut.
Data meteorologi menunjukkan curah hujan pada periode itu mencapai kategori ekstrem. Pada puncaknya, intensitas hujan harian di Kabupaten Bireuen tercatat mencapai 411 milimeter. Angka tersebut melebihi rata-rata curah hujan bulanan di wilayah tersebut, bahkan setara dengan sekitar satu setengah bulan akumulasi.
Penyebab Banjir dan Longsor di Sumatera
Dengan volume sebesar itu tercurah hanya dalam satu hari, ditambah durasi hujan ekstrem yang berlangsung hingga tiga hari, daerah terdampak mengalami tekanan hidrometeorologis yang sangat tinggi. Curah hujan yang melampaui kemampuan tanah dan daerah resapan air menyebabkan aliran permukaan meningkat tajam.
Kondisi ini mempercepat terjadinya banjir bandang, meruntuhkan struktur tanah labil, dan memicu longsor di berbagai titik. Kawasan perbukitan dan lereng, yang sebelumnya telah mengalami degradasi tutupan lahan, menjadi semakin rentan.
Akumulasi air hujan yang besar membuat banyak sungai meluap dan melahirkan arus deras yang menyapu permukiman, infrastruktur, serta area pertanian. Bencana tersebut meninggalkan dampak besar bagi masyarakat di Sumatera.
Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana per 30 November 2025, jumlah korban meninggal dunia mencapai 442 orang. Selain itu, 402 warga masih dinyatakan hilang dan proses pencarian terus dilakukan. Banyak desa terisolasi akibat akses jalan yang rusak, jembatan putus, dan jaringan komunikasi yang sempat terputus.
Tim darurat gabungan masih berupaya mengerahkan bantuan logistik, membuka akses wilayah, serta mengevakuasi penduduk dari daerah rawan. Pemerintah daerah dan pusat juga melakukan pemetaan ulang kawasan berisiko tinggi untuk mengantisipasi kejadian serupa mengingat potensi cuaca ekstrem masih dapat berlanjut pada musim hujan.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa fenomena hidrometeorologi yang dipicu kondisi atmosfer ekstrem dapat menyebabkan dampak luas jika kapasitas lingkungan tidak memadai. Penguatan sistem peringatan dini, perbaikan tata kelola lahan, serta kesiapsiagaan masyarakat menjadi langkah penting guna meminimalkan risiko pada kejadian ekstrem berikutnya.
