Kabar Terkini- Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pemerintah akan menanggung pembayaran utang proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Whoosh sebesar Rp 1,2 triliun setiap tahun. Ia memastikan, kewajiban finansial.
Proyek strategis nasional tersebut akan tetap dibayar oleh negara sebagai bentuk tanggung jawab pemerintah terhadap investasi besar di sektor transportasi massal modern. Prabowo menilai polemik yang mengiringi proyek kereta cepat tidak perlu dijadikan perdebatan panjang.
Menurutnya, masyarakat seharusnya melihat manfaat besar yang telah dirasakan dari kehadiran Whoosh, bukan hanya berfokus pada isu utang atau keuntungan finansial semata. Ia mencontohkan, keberadaan kereta cepat mampu mengurangi tingkat kemacetan, polusi udara, serta mempercepat mobilitas antara dua kota besar, Jakarta dan Bandung.
Hutang Kereta Cepat Terbaru
Presiden Prabowo mengajak masyarakat harus melihat manfaat sosial dan ekonomi jangka panjang bagi masyarakat,” ujar Prabowo dalam pernyataannya. Ia juga menekankan bahwa pemerintah akan bertanggung jawab penuh terhadap keberlanjutan proyek tersebut, termasuk kewajiban pembayaran pinjaman yang telah disepakati.
Meski demikian, Prabowo belum menjelaskan secara detail bagaimana skema pelunasan utang dan bunga pinjaman akan dilakukan. Pemerintah masih menimbang apakah pembayaran akan dilakukan melalui dividen dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Danantara atau dengan alokasi langsung dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Sebagian besar pendanaan proyek KCJB berasal dari pinjaman China Development Bank (CDB), yang mencakup sekitar 75 persen dari total investasi. Pinjaman tersebut memiliki bunga tetap sebesar 2 persen per tahun dengan tenor 40 tahun.
Adapun angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan tawaran Jepang yang sebelumnya memberikan proposal bunga 0,1 persen. Selain pinjaman utama, proyek kereta cepat juga mengalami pembengkakan biaya (cost overrun) hingga mencapai 1,2 miliar dolar AS.
Untuk menutup kekurangan tersebut, konsorsium Indonesia dan China melakukan penarikan pinjaman tambahan dari CDB dengan bunga di atas 3 persen per tahun. Sekitar 60 persen dari cost overrun ditanggung oleh konsorsium Indonesia dan 40 persen oleh pihak China.
Dengan berbagai tantangan finansial yang dihadapi, pemerintah menegaskan komitmennya untuk menjaga keberlanjutan operasional Whoosh. Proyek ini diharapkan dapat menjadi simbol kemajuan infrastruktur transportasi Indonesia serta pendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah Jawa Barat dan sekitarnya.
